Sejarah Resep Herbal Alami Indonesia

Sejarah Resep Herbal Alami Indonesia

SEJAK JAMAN KERAJAAN HERBAL ALAM TELAH DIGUNAKAN
Membaca naskah-naskah dalam sebuah primbon, relief dan prasasti menunjukan sejak jaman kerajaan, herbal alam sudah digunakan sebagai bahan perawat kecantikan dan pengobatan. Pada masa dahulu keraton menjadi pusat tradisi herbal, utamanya untuk merawat kecantikan. Daun, rimpang, akar dan kayu dari berbagai tanaman berkhasiat diolah secara tradisional untuk mempertahankan kecantikan wanita. Sebuah serat primbon Jampi Jawi karya: Sri Sultan Hamengku Buwono II, Raja Mataram yang memerintah antara 1792 hingga 1828, membuktikan tanaman herbal sudah digunakan dalam ritual sehari-hari keluarga bangsawan. Kitab itu bisa disebut referensi tertulis jamu-jamu tertua dari Kerajaan Mataram; (Ngayogjokarto Hadiningrat, sekarang Yogjakarta, Red).

Ada kurang lebih 3000 resep jamu dalam kita yang hingga kini terus diusahakan terjemahannya. Penerjemah itu menemui kendala karena banyak istilah asing yang sudah berubah. Contohnya; dahulu daun waru Hibiscus tiliaceus disebut bolodewo atau pulosari Alyxia stellata ditulis sebagai pulowaras Bahan tanaman yang disebut dalam primbon tidak hanya berasal dari Pulau Jawa.

Dalam salah satu bait ditulis akar gineshah yang banyak terdapat di Lampung. Lainnya dari China: kajeng manis cinten atau kayumanis cina Cinnamomum cassia dan klembak tiongkok Rheum spec. Perawatan yang dilakukan para puteri keraton meliputi pemeliharaan dari dalam (jamu) dan luar tubuh (lulur). Cara meramu dan menyajikan masih terbilang sederhana. Herbal segar dirajang halus, kemudian direbus atau digodog.
Ada juga yang dibuat serbuk, ditumbuk atau digiling untuk di balur kan ke atas kulit. Khusus untuk perawatan kulit dikenal istilah bedak dingin, mangir, lulur, tapel dan pillis. Bedak dingin dibuat untuk menyembuhkan jerawat, pendinginan wajah dan melindungi wajah dari efek buruk sengatan sinar matahari. Bahan-bahan yang sering digunakan biasanya adalah ,,,, seperti: beras, sari bengkuang, umbi rumput teki, mawar, melati, daun pandan, lidah buaya dan lain sebagainya sesuai dengan masing-masing fungsi dan kebutuhannya.